Wajah Baru Jamu Indonesia di Tangan Generasi Muda Lewat Konsep Kafe Modern

19 Apr 2026 • 18:07 iMedia

CAPER.ID – Jamu kini tak lagi identik dengan jamu gendong atau sajian tradisional yang dianggap hanya dekat dengan generasi tua. Di PIK 2, Tangerang, Acaraki menghadirkan konsep Jamu Experience Cafe untuk mendekatkan minuman herbal khas Indonesia itu kepada anak muda.

Di tempat ini, pengunjung tidak hanya memesan jamu, tetapi juga bisa menyaksikan langsung proses peracikannya, memahami filosofi di baliknya, hingga mencoba berbagai kombinasi rasa sesuai selera. Konsep tersebut membuat jamu hadir sebagai pengalaman, bukan sekadar minuman.

“Ketika pertama kali buka acaraki di tahun 2018, ya mungkin teman-teman yang sepuh yang datang. Tapi menariknya, anak-anak muda justru mengunjungi alat cafe jamu kami. Sebenarnya anak-anak muda hanya perlu dilibatkan saja,” ujar Jony.

Melalui konsep Jamu Experience Cafe, Acaraki ingin menunjukkan bahwa jamu bisa dikemas lebih modern tanpa kehilangan akar budaya. Pengunjung diajak melihat langsung proses pembuatan jamu agar lebih memahami nilai tradisional yang terkandung di dalamnya.

Pendekatan ini sekaligus mengubah persepsi bahwa jamu adalah produk lama yang sulit diterima generasi sekarang. Menurut Jony, modernisasi tidak harus memutus tradisi, melainkan bisa menjadi jembatan agar warisan budaya tetap hidup.

Inovasi juga terlihat dari menu yang ditawarkan. Jamu tidak lagi disajikan dalam bentuk klasik semata, tetapi dikreasikan dengan sentuhan kekinian seperti susu, es krim, hingga teknik penyeduhan ala kopi dan matcha.

Beberapa racikan yang ditawarkan antara lain beras kencur dengan susu yang lebih creamy, kunyit asam dengan es krim yang segar, daun kelor yang diolah seperti matcha, hingga jahe yang diseduh ala Vietnam drip. Ragam inovasi ini membuka ruang eksplorasi rasa yang lebih luas.

Pengunjung pun diberi kebebasan untuk menyesuaikan racikan sesuai preferensi masing-masing. Cara ini membuat jamu terasa lebih personal dan lebih mudah diterima oleh lidah generasi muda.

“Jamu itu sangat subjektif. Di sini, acaraki berperan sebagai peracik jamu. Artinya apa? Kita mencoba meracik jamu yang sesuai dengan keinginan pelanggan. Kalau Anda enggak nyaman minum kunyit asam pekat, mau ditambahkan gula, silakan. Tambahkan madu, boleh. Mau tambahkan soda biar lebih segar, silakan. Kita meracik supaya bisa nyaman dulu di lidah, supaya bisa menjadi bagian dari gaya hidup,” jelas Jony.

Pengalaman tersebut juga dirasakan pengunjung muda, Aurelina Prameswari (21), yang mengaku awalnya tidak terbiasa minum jamu. Namun, pendekatan modern seperti ini membuat jamu terasa lebih mudah diterima dan dekat dengan keseharian anak muda.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya