Silent Book Club: Ditemani Tanpa Kehilangan Ruang untuk Diri Sendiri

27 Apr 2026 • 22:27 iMedia

Jakarta memang tidak pernah benar-benar tidur. Di tengah hiruk-pikuk kota, rasa cemas saya sempat muncul saat menaiki bus menuju Tugu Tani pada Minggu pagi. Namun, pengalaman singkat itu justru memperlihatkan sesuatu yang sederhana: kita bisa merasa ditemani tanpa harus banyak berbicara.

Di dalam bus, seorang nenek menyapa penumpang di sebelahnya dan mengira ia berasal dari Medan. Percakapan ringan yang diselingi tawa membuat suasana menjadi hangat. Bahkan saat turun, penumpang itu sempat bercanda kepada saya. Momen-momen kecil seperti inilah yang kemudian menjawab pertanyaan saya: rasa ditemani tidak selalu harus hadir lewat obrolan panjang.

Pengalaman itu terasa relevan saat saya mendatangi kegiatan baca bersama atau silent book club di Taman Menteng. Tanpa aba-aba khusus, para peserta datang membawa buku masing-masing, lalu duduk dan membaca dalam suasana tenang. Ada yang datang lebih awal, ada yang menyusul belakangan, dan tidak ada kewajiban untuk berkenalan atau berdiskusi. Setiap orang diberi ruang untuk menikmati bacaan sesuai ritmenya sendiri.

Kegiatan yang diinformasikan lewat akun media sosial @bacabareng.sbc itu dijadwalkan mulai pukul 10.00. Namun sejak sekitar pukul 09.40, taman sudah mulai dipenuhi pembaca yang datang secara perlahan. Mereka tidak saling kenal, tetapi bisa duduk berdampingan dalam satu ruang yang sama. Di tepi lapangan futsal, rumput dan udara pagi menjadi teman bagi mereka yang ingin sejenak menjauh dari layar gawai dan hiruk-pikuk kota.

Hestia, penggagas komunitas ini, mengatakan bahwa ia memulai silent book club karena ingin memiliki teman untuk membaca tanpa harus kehilangan momen tenang. Menurut dia, yang dibutuhkan bukanlah diskusi atau formalitas, melainkan kehadiran orang lain yang sama-sama membaca.

“Waktu itu aku punya pacar. Kami punya agenda saling menemani. Terserah dia mau ngapain, tapi aku membaca. Singkat cerita, kami putus. Di situ aku berpikir, ‘aduh aku nggak punya teman lagi yang bisa nemenin aku baca.’ Beneran, aku cuma butuh ditemenin baca, bukan untuk diskusinya,” kata Hestia.

Selain pengalaman pribadi, kecintaan Hestia terhadap membaca juga tumbuh dari lingkungan keluarga. Ia bercerita dibesarkan dalam keluarga yang akrab dengan buku dan kebiasaan membaca. Saat masih kecil di Surabaya, keluarganya punya momen membaca bersama setelah Maghrib. Jika tidak ada PR atau ulangan, orang tuanya akan mengingatkan anak-anak untuk membaca.

“Kami itu punya momen-momen di mana kami membaca setelah Maghrib. Aku besar di Surabaya. Jadi, pukul setengah enam sore itu langitnya sudah gelap, kalau bisa nggak boleh keluar rumah. Nah, kalau misalkan kami lagi nggak ada PR atau ulangan, orang tua selalu mengingatkan kami untuk membaca,” ujarnya.

Ia juga melihat langsung bagaimana kebiasaan membaca ditunjukkan oleh orang tuanya, mulai dari membaca koran, tabloid, hingga majalah. Kebiasaan itu kemudian ikut membentuk dirinya hingga tertarik menginisiasi ruang baca bersama yang santai dan tanpa tekanan.

Saat merantau dan hidup mandiri di Jakarta, Hestia menemukan konsep silent book club dari sebuah artikel media Amerika Serikat. Konsep itu sederhana: dua jam membaca bersama, tanpa diskusi, tanpa perkenalan, dan peserta membawa bacaan masing-masing. Bagi Hestia, format seperti itu terasa pas karena memberi ruang bagi tiap orang untuk hadir tanpa harus banyak tuntutan sosial.

Fenomena silent book club menunjukkan bahwa kebersamaan tidak selalu harus diisi percakapan. Dalam suasana tenang, orang-orang tetap bisa merasa ditemani, tetap punya ruang untuk diri sendiri, dan tetap terhubung dengan sesama dalam cara yang lebih sederhana.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya