Episode Everybody Loves Raymond yang Sudah Kurang Enak Ditonton

07 Apr 2026 • 13:20 iMedia

CAPER.ID – Everybody Loves Raymond memang lebih awet dibanding banyak sitkom era 1990-an lainnya. Namun, ada sejumlah episode yang kini terasa kurang nyaman ditonton karena alur, tone, atau humornya sudah tidak lagi relevan.

Serial CBS ini tayang mulai 1996 dan berlangsung selama sembilan musim hingga 2005. Selama penayangannya, Everybody Loves Raymond meraih 69 nominasi Emmy dan mencatat 15 kemenangan, menjadikannya salah satu sitkom keluarga paling berpengaruh.

Keunggulan serial ini terletak pada penggambaran kehidupan keluarga yang terasa realistis. Hubungan Ray dan Debra, juga dinamika dengan Frank, Marie, dan Robert, sering disajikan dengan dialog yang tajam namun tetap dekat dengan keseharian. Meski begitu, tidak semua episode berhasil bertahan dengan baik seiring perubahan zaman.

Episode "Frank's Tribute" misalnya, menampilkan Frank yang dipilih menjadi "Man of the Year" oleh rekan-rekannya di klub. Ray dan Robert diminta membuat video penghormatan, tetapi mereka justru mengetahui bahwa para sahabat Frank sebenarnya tidak menyukainya. Episode ini berubah menjadi sangat berat di bagian tengah, saat Frank sadar dirinya tidak benar-benar disukai. Percakapan jujur antara Frank dan Marie memang menarik, tetapi arahnya terasa seperti membuka jalan untuk perkembangan karakter yang tidak pernah benar-benar dituntaskan.

Lalu ada "How They Met", episode kilas balik yang mengisahkan pertemuan pertama Ray dan Debra. Meski idenya terdengar menarik, episode flashback seperti ini justru sering mengganggu ritme serial. Banyak karakter penting tidak muncul, sementara informasi yang diungkap tidak menambah banyak hal baru bagi penonton.

Episode "The Can Opener" mencoba memakai format mirip Rashomon, saat satu kejadian sederhana dituturkan berulang kali dari sudut pandang berbeda. Masalahnya, versi-versi cerita yang ditampilkan terasa kurang cocok dengan karakter yang menceritakannya. Hasilnya, episode ini dianggap sebagai salah satu contoh penulisan yang kurang kuat di serial ini.

Di awal musim kelima, serial membuka dua episode bertema liburan Italia lewat "Italy". Namun alih-alih terasa natural, episode ini lebih mirip materi promosi wisata. Adegan anak-anak bermain bola, Ray terpukau oleh pizza, hingga Robert yang langsung menemukan romansa dengan penjual gelato membuat episode ini terasa terlalu dibuat-buat.

Hubungan Ray dan Debra biasanya menjadi kekuatan utama serial ini karena pertengkaran mereka terasa masuk akal. Tetapi di episode "Super Bowl", konflik mereka terasa berlebihan. Debra marah karena Ray mengajak temannya ke pertandingan besar itu, terutama setelah tahu rekan kerja Ray membawa pasangan mereka. Konfliknya dinilai kurang seimbang dan agak dipaksakan.

Episode "No Roll!" juga dianggap tidak sepenuhnya menyatu dengan identitas serial. Dalam episode ini, Ray dan Debra memainkan permainan romantis yang memicu percakapan serius tentang kehidupan intim setelah 12 tahun pernikahan. Meski topiknya penting, penyajiannya terasa kaku dan tidak sehalus episode-episode terbaik serial ini.

Ada juga "The Annoying Kid", episode yang menampilkan anak kecil sangat menyebalkan saat Ray dan Debra berteman dengan pasangan baru. Anak bernama Spencer digambarkan sangat mengganggu, mulai dari tingkahnya yang menjengkelkan hingga komentar kasarnya kepada Ray. Bagi sebagian penonton, ini memang realistis, tetapi bagi yang lain justru terasa terlalu menguras emosi.

Dalam "Lateness", masalah keterlambatan Debra menjadi sumber konflik besar. Ray akhirnya memberi ultimatum, tetapi ketika Debra tetap datang terlambat, Ray memilih pergi tanpa dirinya. Walau Debra jelas punya kebiasaan buruk, episode ini dinilai terlalu mendorong penonton untuk memihaknya.

Episode yang lebih lemah biasanya juga muncul saat serial terlalu fokus pada karakter di luar lingkar utama. "Ally's F" misalnya, menempatkan Ally, putri Ray dan Debra, sebagai pusat cerita saat ia mendapat nilai F di matematika. Konflik sederhana ini terasa hambar, ditambah subplot yang sudah terasa usang, termasuk soal anak kecil berbicara dengan laki-laki lewat telepon.

Sementara itu, "The Faux Pas" memperlihatkan Ray membuat lelucon soal ayah teman basket anaknya yang bekerja sebagai petugas kebersihan. Niatnya bercanda, tetapi hasilnya justru memalukan dan tidak nyaman ditonton. Dalam episode ini, Ray dan Debra sama-sama terlihat buruk, tetapi dalam cara yang terlalu spesifik dan menyebalkan.

Secara keseluruhan, Everybody Loves Raymond tetap layak dikenang sebagai salah satu sitkom keluarga terbaik. Namun, beberapa episode di atas menunjukkan bahwa bahkan serial yang kuat pun tidak luput dari momen-momen yang kini terasa kurang tahan uji.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya