Lebih dari 1 Juta Rekening Bank Diretas, Ancaman Siber Bergeser ke Pencurian Data Login
CAPER.ID – Kaspersky melaporkan lebih dari satu juta akun perbankan diretas sepanjang 2025 akibat serangan malware pencuri data atau infostealer. Temuan ini menunjukkan ancaman siber finansial kini semakin bergeser dari metode lama ke pencurian kredensial.
Dalam laporannya, Kaspersky menyebut para peretas kini tidak lagi terlalu bergantung pada malware perbankan tradisional di PC. Mereka justru memanfaatkan rekayasa sosial, perdagangan data di dark web, serta situs e-commerce palsu untuk mencuri data login pengguna.
Infostealer menjadi alat utama untuk mengambil data sensitif, mulai dari username, kata sandi, cookie, hingga data kartu bank dan aset kripto. Informasi yang berhasil dicuri kemudian dikumpulkan, dikemas ulang, dan dijual di dark web, sehingga memudahkan pengambilalihan akun serta penipuan finansial.
“Dark web telah menjadi pusat utama kejahatan siber finansial. Kredensial dan kartu perbankan yang dicuri dikumpulkan, dikemas ulang, dan dijual di sana,” ujar Polina Tretyak, analis Kaspersky Digital Footprint Intelligence, dalam keterangan resminya, Jumat (17/4/2026).
Ia menambahkan, ekosistem tersebut membuat serangan semakin mudah dilakukan, bahkan oleh pelaku dengan kemampuan teknis terbatas.
Selain malware, serangan phishing juga masih marak. Pada 2025, situs palsu yang meniru toko online menjadi yang paling banyak digunakan, dengan porsi 48,5 persen dari total serangan phishing finansial. Target perbankan menyusul sebesar 26,1 persen, sedangkan sistem pembayaran mencapai 25,5 persen.
Penurunan serangan phishing ke bank menunjukkan sistem perbankan semakin sulit ditembus. Akibatnya, pelaku beralih ke metode yang dinilai lebih mudah, seperti menipu pengguna melalui platform belanja daring.
Kaspersky juga mencatat pergeseran serangan ke perangkat mobile. Seiring makin banyak pengguna mengakses layanan keuangan lewat smartphone, serangan malware finansial di PC menurun, sementara serangan pada perangkat mobile naik hingga 1,5 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Di kawasan Asia Pasifik, peningkatannya bahkan mencapai 132 persen sepanjang tahun.
