Ending Chainsaw Man Jadi Alarm untuk Perubahan Besar di Manga Shonen

12 Apr 2026 • 14:07 iMedia

CAPER.ID – Penutup Chainsaw Man pada Maret 2026 seharusnya menjadi momen penting bagi manga shonen modern. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Akhir cerita karya Tatsuki Fujimoto itu menuai kritik karena dinilai tergesa-gesa, kurang memberi ruang bagi penyelesaian sejumlah konflik, dan meninggalkan beberapa karakter penting tanpa pengembangan yang memadai.

Meski telah berjalan selama 232 chapter, banyak pembaca menilai manga ini masih menyisakan benang merah yang belum tuntas. Kondisi tersebut memunculkan kembali perdebatan soal pacing atau ritme penceritaan dalam manga shonen masa kini.

Masalah yang dialami Chainsaw Man bukan kasus tunggal. Sejumlah judul besar era baru seperti Jujutsu Kaisen, Demon Slayer, Tokyo Revengers, hingga Kaiju No. 8 juga kerap menerima kritik serupa. Bukan karena premis atau idenya lemah, melainkan karena cerita dianggap bergerak terlalu cepat menuju akhir tanpa memaksimalkan dunia dan karakter yang sudah dibangun.

Fenomena ini tampaknya menjadi reaksi terhadap manga-manga generasi sebelumnya seperti Naruto dan Dragon Ball yang berjalan sangat panjang, masing-masing hingga 700 chapter dan lebih dari 500 chapter. Dua seri itu memang sering dikritik karena terlalu berlarut-larut, tetapi juga memberi ruang lebih luas untuk pembangunan dunia, perkembangan karakter, dan momen emosional yang kuat.

Di sisi lain, manga shonen modern justru cenderung menghindari kesan terlalu panjang. Sayangnya, upaya untuk tidak mengulang kesalahan lama itu tampaknya berbalik terlalu jauh ke arah sebaliknya. Chainsaw Man menjadi contoh paling mencolok. Dengan total 232 chapter, serial ini sebenarnya masih memiliki ruang untuk mengembangkan klimaksnya, tetapi alur akhir justru terasa dipadatkan.

Beberapa perkembangan penting, termasuk perubahan waktu, penyelesaian konflik, dan nasib sejumlah karakter, terasa lebih seperti rangkuman daripada penutup yang benar-benar dibangun secara emosional. Akibatnya, ending manga ini dinilai tidak memberi dampak sekuat potensi ceritanya.

Masalah pacing juga berdampak pada sisi emosional. Saat cerita bergerak terlalu cepat, pembaca kehilangan kesempatan untuk benar-benar terhubung dengan perjalanan para karakter. Alih-alih menikmati proses menuju akhir yang memuaskan, audiens justru dipaksa menerima penutup yang terasa mendadak dan kurang mendalam.

Pola serupa terlihat pada Jujutsu Kaisen yang berakhir setelah 271 chapter. Meski konflik utamanya selesai, sejumlah subplot dan perkembangan karakter dinilai belum sepenuhnya terselesaikan. Banyak penggemar juga mempertanyakan mengapa serial dengan sistem kekuatan dan karakter yang kaya tidak diberi ruang lebih panjang untuk menggali semuanya.

Demon Slayer pun sempat memicu diskusi serupa. Serial yang kerap dipuji karena konsistensi alurnya itu selesai dalam 205 chapter, namun sebagian pembaca merasa dunia cerita dan karakter pendukungnya masih bisa dieksplorasi lebih jauh. Bahkan ada anggapan bahwa serial ini layak mendapat tambahan puluhan chapter untuk memperdalam lore dan relasi antarkarakter.

Sementara itu, Kaiju No. 8 yang hanya berjalan 129 chapter dinilai terlalu cepat menuntaskan premis besarnya. Serial dengan konsep dunia pertahanan ضد monster itu dianggap menyimpan banyak potensi eksplorasi yang tidak sempat digarap secara maksimal. Tokyo Revengers juga menghadapi kritik serupa pada bagian akhirnya.

Rangkaian contoh tersebut menunjukkan satu tren yang semakin jelas di industri manga: ide-ide besar terus bermunculan, tetapi tidak selalu diberi waktu yang cukup untuk berkembang sebelum cerita ditutup. Bukan berarti manga harus kembali ke format ribuan chapter seperti One Piece. Namun, industri tampaknya perlu mencari titik tengah yang lebih sehat.

Format cerita di kisaran 300 hingga 500 chapter dinilai bisa menjadi kompromi yang lebih ideal. Panjang cerita seperti itu dianggap cukup untuk memberi kedalaman, tetapi tetap menjaga momentum agar pembaca tidak merasa jenuh atau sebaliknya merasa cerita berakhir terlalu cepat.

Keseimbangan ini penting untuk membangun warisan jangka panjang. Serial seperti Naruto dan Bleach tidak hanya populer karena skala ceritanya, tetapi juga karena diberi waktu untuk membentuk dunia, karakter, dan momen-momen penting yang membekas. Banyak judul baru berisiko dikenang bukan karena pencapaiannya, melainkan karena potensi yang tidak sepenuhnya terwujud.

Setelah hampir delapan tahun mencuri perhatian dunia, Chainsaw Man akhirnya menutup perjalanannya. Namun, alih-alih hanya dikenang sebagai penutup sebuah serial besar, ending-nya kini menjadi sinyal penting bagi industri manga shonen secara keseluruhan.

Jika shonen ingin terus berkembang, maka yang perlu diperhatikan bukan sekadar cepat selesai, melainkan bagaimana sebuah cerita diberi ruang yang cukup untuk berakhir dengan pantas, kuat, dan memuaskan bagi pembacanya.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya