30 Tahun Kemudian, Invincible Disebut Jadi Jawaban Amerika untuk Dragon Ball Z

10 Apr 2026 • 13:40 iMedia

CAPER.ID – Tiga dekade setelah episode terakhirnya tayang, Dragon Ball Z masih menjadi anime paling berpengaruh dan paling dikenal di dunia Barat. Popularitas global sejumlah judul seperti Naruto, One Piece, Demon Slayer, hingga Jujutsu Kaisen tak lepas dari jalan yang telah dibuka oleh Goku dan kawan-kawan lewat manga legendaris Akira Toriyama.

Pengaruh Dragon Ball bahkan terasa di berbagai film dan serial Hollywood, mulai dari Black Panther, Chronicle, Avatar: The Last Airbender, hingga Man of Steel. Namun, di Amerika Serikat belum pernah benar-benar lahir serial yang bisa disebut sebagai tandingan setara dari Dragon Ball. Hampir semua penerus yang realistis justru tetap datang dari anime Jepang.

Hal itu dinilai wajar karena anime memiliki tone dan nuansa yang sulit ditiru produksi non-Jepang. Butuh serial yang sangat spesial untuk bisa menangkap energi dan sensasi khas Dragon Ball dalam format animasi Barat. Setelah menunggu puluhan tahun, Prime Video lewat Invincible akhirnya disebut sebagai jawaban Amerika untuk Dragon Ball.

Invincible dan Dragon Ball sama-sama berangkat dari mitos Superman. Keduanya menghadirkan ras alien petarung yang memiliki ambisi menaklukkan Bumi, yakni Saiyan di Dragon Ball dan Viltrumite di Invincible. Keduanya juga menampilkan karakter dari ras tersebut yang datang ke Bumi, lalu berbaur dengan kehidupan manusia, membangun keluarga, dan pada akhirnya berbalik melawan bangsa mereka sendiri.

Yang membedakan, Invincible seolah mengajukan pertanyaan, “Bagaimana jika Goku baru sadar saat sudah dewasa?” Dari sini, muncul sosok Omni-Man yang berpura-pura menjadi pahlawan sebelum akhirnya melancarkan serangan ke Bumi. Lambat laun, ia menyadari kesalahannya dan mencoba menebus dosa dengan melawan sesama Viltrumite. Sementara itu, tokoh utama serial ini, Mark, menjadi representasi “Gohan” dalam cerita tersebut: pahlawan muda setengah manusia yang enggan menerima takdirnya, namun tetap harus menanggung beban besar.

Omni-Man bahkan nyaris mengambil peran seperti Vegeta, yakni sosok yang perlahan punya hati nurani setelah jatuh cinta dengan perempuan Bumi, memiliki anak, lalu memilih keluarga barunya di atas segalanya.

Meski fondasinya mirip, tiga musim awal Invincible belum benar-benar terasa seperti paralel langsung dengan Dragon Ball. Adaptasi Prime Video ini lebih banyak menyerap unsur Marvel dan DC, sehingga tetap kuat sebagai parodi superhero dengan unsur kekerasan dan bahasa kasar. Mark pun lebih sering berhadapan dengan ilmuwan jahat, naga raksasa, hingga android kuat.

Perubahan besar terjadi di musim keempat saat kisah Invincible bergeser lewat konflik Viltrumite War. Mark Grayson bersama ayahnya, Omni-Man, meninggalkan Bumi untuk bergabung dengan Coalition of Planets dan berperang melawan Viltrumite di seluruh galaksi. Dari titik ini, serial tersebut tak lagi berpusat pada pahlawan berkostum cerah yang melawan penjahat aneh, melainkan pertarungan brutal antaralien superkuat di udara—citra yang sangat dekat dengan Dragon Ball.

Perang itu memunculkan pertarungan antar-Viltrumite di luar angkasa dengan serangan terbang, kehancuran masif, dan pukulan brutal yang membuat adegan aksinya terasa seperti Goku melawan Vegeta atau duel ikonik Dragon Ball lainnya. Saat Oliver menghadapi Conquest, sulit untuk tidak teringat pada Gohan yang berani menantang Nappa.

Tak hanya dari sisi pertarungan, musim keempat Invincible juga mendekat ke DNA Dragon Ball lewat susunan karakternya. Jika sebelumnya Guardians of the Globe dan Teen Team terasa seperti sindiran atas kelompok superhero ala Marvel dan DC, maka Coalition of Planets di musim ini lebih mirip Z-Fighters: kumpulan petarung kuat yang berhadapan dengan musuh-musuh sama kuat. Omni-Man bisa dipandang sebagai Goku atau Vegeta, Mark sebagai Gohan, Oliver sebagai Goten, sementara Allen, Battle Beast, Zoe, dan Space Racer mengisi peran seperti Krillin, Piccolo, Android 18, dan lainnya. Bahkan Thaedus disebut seperti versi “kakek tua” yang di-buff ala Master Roshi.

Hubungan antarkarakternya pun membawa nuansa yang familiar bagi penggemar Dragon Ball. Jarak emosional antara Oliver dan ayahnya yang absen, Omni-Man, terasa sebagai versi lebih ekstrem dari relasi Goten dan Goku. Sementara itu, ikatan hangat antara Mark dan Oliver mengingatkan pada kedekatan Gohan dan Goten.

Meski Dragon Ball juga tidak pelit menampilkan kekerasan, Invincible jelas membawa level itu lebih jauh. Dragon Ball menampilkan anggota tubuh terputus dan luka berat, tetapi tidak sampai sebrutal adegan ekstrem khas Invincible. Ditambah lagi, serial ini juga bebas menggunakan kata-kata kasar yang tentu tak terdengar di siaran Dragon Ball Z di televisi era 2000-an.

Namun, perbedaan paling menonjol ada pada porsi dramanya. Dragon Ball pada dasarnya adalah manga pertarungan, meski tetap memiliki perkembangan karakter yang kuat. Sementara itu, Invincible memberi ruang lebih besar untuk konflik batin Mark, kejutan kehamilan Eve, hingga pertarungan emosional pascacerai antara Debbie dan Omni-Man.

Dengan musim keempat, Invincible tampak memadukan drama besar khas serial streaming dengan nuansa anime Jepang yang intens. Hasilnya memang tidak identik dengan Dragon Ball, tetapi justru bisa menjadi formula baru yang relevan. Mengingat penonton yang dulu menyaksikan Goku menjadi Super Saiyan kini sudah memasuki usia 30-an, tambahan drama kehidupan nyata mungkin menjadi cara tepat agar formula lama tetap terasa segar.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya