Tren Anxiety Bag di Kalangan Gen Z, Cara Sederhana Redakan Cemas Mendadak

14 Apr 2026 • 02:17 iMedia

CAPER.ID – Tren anxiety bag kini makin ramai dibicarakan di kalangan Gen Z seiring meningkatnya perhatian anak muda terhadap kesehatan mental. Tas kecil berisi benda-benda penenang ini dinilai membantu saat rasa cemas datang tiba-tiba, terutama di tengah aktivitas harian yang padat dan penuh stimulasi.

Di tengah banyaknya pilihan penanganan kecemasan seperti terapi bicara atau obat, solusi cepat kerap dibutuhkan ketika serangan panik muncul mendadak, termasuk saat berada di ruang publik. Menurut dokter dan ahli neuroscience Kyra Bobinet, teknik seperti mindfulness memang bermanfaat, tetapi tidak selalu mudah diingat saat seseorang sedang berada dalam kondisi sangat tertekan.

Anxiety bag, yang juga dikenal sebagai panic pouch atau calm-down kit, berisi alat-alat sederhana untuk membantu menenangkan diri. Tren ini banyak diminati Gen Z, khususnya perempuan, karena sifatnya yang praktis dan mudah dibawa ke mana-mana.

Sejumlah survei juga menunjukkan tingginya angka kecemasan di kalangan usia muda. Dalam sebuah survei terhadap hampir 1.000 responden berusia 18-26 tahun, 61 persen mengaku memiliki gangguan kecemasan yang terdiagnosis, sementara 43 persen lainnya mengalami serangan panik setidaknya sebulan sekali.

Fungsi anxiety bag dinilai relevan sebagai langkah awal saat stres meningkat. Menurut Bobinet, menyimpan alat bantu regulasi emosi di dekat jangkauan dapat menjadi cara untuk mengalihkan perhatian dan menciptakan sensasi lain agar pikiran cemas tidak sepenuhnya mendominasi.

Isi anxiety bag bisa berbeda-beda karena tiap orang memiliki pemicu kecemasan yang tidak sama. Namun, ada beberapa benda yang umum digunakan karena membantu dari sisi sensorik, seperti obat pribadi, minyak esensial, permen asam, hingga benda bertekstur untuk grounding.

Stefany Staples, 24 tahun, misalnya, mengaku sempat mengalami kecemasan dengan gejala fisik seperti jantung berdebar hingga beberapa kali harus ke rumah sakit. Dalam anxiety bag miliknya, ia menyimpan obat, minyak esensial lavender, dan permen asam.

Menurut psikolog klinis Jenny Martin, intervensi sensorik cepat seperti memegang es, mencium aroma kuat, atau mengisap permen dengan rasa tajam dapat membantu menghentikan lonjakan sistem saraf. Cara ini bekerja dengan mengalihkan perhatian dari pikiran cemas ke tubuh dan kondisi saat ini.

Psikolog MaryEllen Eller menambahkan, isi tas sebaiknya disesuaikan dengan pemicu kecemasan masing-masing. Jika dipicu oleh overstimulasi, headphone peredam suara atau musik yang menenangkan bisa membantu. Sementara itu, bila kecemasan muncul karena pikiran berulang, teknik grounding dan benda bertekstur seperti fidget dapat lebih efektif.

Ia juga menyarankan agar berbagai metode tersebut dicoba saat kondisi sedang tenang, sehingga otak terbiasa menghubungkannya dengan rasa aman. Meski bermanfaat sebagai pertolongan pertama, para ahli mengingatkan agar anxiety bag tidak membuat penggunanya bergantung dalam jangka panjang.

Psikiater Vinay Saranga menegaskan bahwa alat ini sebaiknya diposisikan sebagai pendukung, bukan solusi utama. Dalam jangka panjang, tujuan utamanya adalah membantu seseorang lebih mandiri dalam menghadapi kecemasan tanpa bergantung pada tas tersebut.

Tren anxiety bag menunjukkan bagaimana Gen Z semakin terbuka terhadap isu kesehatan mental dan berupaya mencari cara praktis untuk mengelola rasa cemas. Namun, upaya jangka panjang tetap diperlukan agar penanganan kecemasan bisa lebih menyeluruh.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya