Maskapai Dunia Kompak Naikkan Tarif dan Pangkas Penerbangan akibat Lonjakan Harga Avtur
CAPER.ID – Industri penerbangan global tengah menghadapi tekanan berat akibat melonjaknya harga bahan bakar pesawat atau avtur. Kenaikan ini dipicu oleh konflik di Timur Tengah yang memengaruhi jalur penerbangan dan biaya operasional maskapai.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga avtur disebut naik tajam ke kisaran USD150-200 per barel atau sekitar Rp2,5-3,4 juta. Kondisi tersebut membuat maskapai harus menanggung beban biaya yang jauh lebih besar, mengingat bahan bakar merupakan salah satu komponen utama operasional penerbangan.
Sejumlah maskapai di berbagai negara pun mulai mengambil langkah penyesuaian, mulai dari menaikkan harga tiket, menambah biaya bagasi, hingga memangkas jadwal penerbangan. Di tengah situasi itu, beberapa perusahaan juga memilih mengurangi rute yang dinilai kurang menguntungkan.
Aegean Airlines dari Yunani, misalnya, menangguhkan penerbangan ke Timur Tengah. Langkah ini berdampak pada pendapatan perusahaan yang pada kuartal pertama tahun ini disebut mengalami kerugian cukup signifikan.
Dari Malaysia, AirAsia X mengurangi 10 persen penerbangan di seluruh jaringannya dan menaikkan tarif ke sebagian besar rute sekitar 20 persen untuk menutup biaya bahan bakar. Sementara itu, Air France-KLM berencana menaikkan harga tiket perjalanan jarak jauh hingga 50 euro atau sekitar Rp1 juta untuk penerbangan pulang-pergi.
Maskapai lain juga mengambil langkah serupa. Air India disebut tengah meninjau ulang biaya tambahan bahan bakar, sementara Air New Zealand memangkas penerbangan hingga Mei dan Juni. Akasa Air di India memberlakukan biaya tambahan bahan bakar antara 199 hingga 1.300 rupee India atau sekitar Rp37 ribu hingga Rp239 ribu.
Di Amerika Serikat, Alaska Air menaikkan tarif bagasi, disusul American Airlines, Delta Airlines, JetBlue, Southwest Airlines, dan United Airlines yang juga menyesuaikan biaya layanan maupun kapasitas penerbangan. Beberapa maskapai bahkan mengurangi keuntungan layanan untuk penumpang kelas ekonomi.
Maskapai Asia seperti Cathay Pacific, China Eastern Airlines, Hong Kong Airlines, Indigo, Korean Air, Vietjet, Vietnam Airlines, dan Thai Airways turut melakukan penyesuaian tarif maupun jadwal penerbangan. Langkah serupa juga diambil oleh maskapai Eropa seperti SAS, TAP, serta SunExpress yang menaikkan biaya tambahan untuk rute tertentu.
Di sisi lain, maskapai di sejumlah negara menegaskan masih akan memantau kondisi pasar sebelum mengambil keputusan lanjutan. Meski begitu, tren kenaikan biaya tampaknya sulit dihindari selama harga avtur tetap tinggi dan situasi geopolitik belum stabil.
Sejumlah pengamat menilai tekanan ini bisa terus berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, terutama jika gangguan di kawasan Timur Tengah belum mereda. Bagi penumpang, dampaknya mulai terasa lewat tarif tiket yang lebih mahal, tambahan biaya bagasi, hingga berkurangnya pilihan jadwal penerbangan.
