Doctor Who Dinilai Belum Punya Final Musim yang Benar-Benar Kuat Sejak Era Capaldi

09 Apr 2026 • 01:25 iMedia

CAPER.ID – Salah satu kritik yang terus melekat pada Doctor Who dalam beberapa musim terakhir adalah absennya final musim yang benar-benar kuat. Sejak Steven Moffat meninggalkan kursi showrunner, serial ini dianggap kehilangan ketajaman naratif yang dulu kerap membuat episode penutup terasa besar, emosional, dan memuaskan.

Banyak penggemar menilai momen terakhir yang benar-benar meninggalkan kesan mendalam hadir pada era Peter Capaldi, tepatnya lewat dua bagian World Enough and Time dan The Doctor Falls. Final itu dinilai berhasil merangkai berbagai benang cerita yang dibangun sejak awal musim, menghadirkan kembalinya karakter-karakter penting, serta memberi penutup emosional yang kuat bagi perjalanan Dokter ke-12.

Dalam dua episode tersebut, sejumlah alur yang sempat dibangun sebelumnya kembali dipakai secara efektif. Misalnya, keterlibatan Pilot dan kisah Missy yang disimpan di ruang bawah tanah universitas menjadi bagian penting dari klimaks cerita. Capaldi juga disebut tampil sangat kuat saat karakter Dokter menghadapi kehilangan besar menjelang regenerasinya, sebelum akhirnya memperoleh satu pelajaran terakhir di spesial Natal 2017, Twice Upon a Time.

Setelah era Moffat berakhir, Doctor Who memasuki fase baru di bawah Chris Chibnall. Meski membawa sejumlah perubahan visual dan arah cerita, termasuk perkenalan Jodie Whittaker sebagai Dokter ke-13, banyak final musim dinilai belum mampu menyamai bobot emosional dan kepadatan cerita dari musim-musim sebelumnya.

Final musim 11, The Battle of Ranskoor Av Kolos, dianggap terlalu mudah diselesaikan. Musim 12 memang menghadirkan elemen yang lebih besar lewat kembalinya The Master dan Cybermen, namun pengungkapan dalam The Timeless Children justru memunculkan perdebatan karena dinilai terlalu jauh mengubah mitologi Doctor Who.

Musim 13 yang berformat enam episode dan berpusat pada ancaman Flux disebut sempat mendekati intensitas era lama, tetapi struktur ceritanya yang sangat terpusat membuat nuansa pembangunan konflik sepanjang musim terasa kurang berlapis. Hasil akhirnya pun tidak dianggap sekuat final-final klasik Doctor Who.

Era Ncuti Gatwa sebagai Dokter ke-15 semula membawa energi baru yang menyenangkan, termasuk pengenalan Pantheon of Gods. Namun, final musim 14 dinilai kembali kehilangan tenaga karena Sutekh diselesaikan terlalu cepat, sementara misteri Ruby Sunday yang dibangun panjang justru berujung pada jawaban yang dianggap terlalu sederhana.

Musim 15 bahkan disebut sebagai yang paling terdampak, karena rencana besar yang tampaknya disiapkan Russell T Davies harus dipercepat setelah kepergian mendadak Ncuti Gatwa. Penutup musim itu pun terasa terburu-buru, terutama dengan urutan akhir yang membingungkan ketika Dokter berubah menjadi Billie Piper, yang sebelumnya dikenal sebagai pemeran Rose Tyler.

Dengan kepergian Gatwa dan rencana Davies untuk mundur setelah spesial Natal 2026, masa depan Doctor Who kini kembali berada di tangan kreatif baru. Tantangannya jelas: membangun ulang kepercayaan penonton, merancang alur yang lebih terhubung, dan menghadirkan final musim yang tidak hanya mengejutkan, tetapi juga terasa pantas secara emosional dan naratif.

Meski jalan ke sana tidak mudah, Doctor Who masih memiliki potensi besar sebagai salah satu serial fiksi ilmiah paling ikonik di televisi. Jika showrunner berikutnya mampu belajar dari kekuatan musim-musim terbaiknya, bukan tidak mungkin serial ini bisa kembali menemukan kejayaan lewat cerita yang lebih matang dan final yang benar-benar meninggalkan kesan.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya